(LIPUTAN Blogger Erfano Nalakiano) : Jakarta Art Award 2012: Ketika Keidealan Memiliki Persepsi yang Beragam

Siang itu suasana di Bogor terlihat mendung, tak berapa lama hujan mulai turun cukup deras. Di sudut kelas aku terpaku sesaat sambil kembali fokus mengoreksi lembar kerja anak-anak. Hujan mulai reda, beberapa saat kemudian hujan turun lagi. Aku menghela nafas. Sore ini saya harus berangkat ke Jakarta mengikuti prosesi pengumuman Jakarta Art Award 2012.

Dunia ini tidak ideal, ucapku dalam hati. Harusnya hujannya cukup sekali saja. Harusnya saat akan ke Jakarta cuaca cerah, lanjutku masih dalam hati.

Jam menunjukkan pukul 3 sore, hujan mereda. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke stasiun Bogor. Jam 4 sore kurang, kereta sudah berjalan. Jika lancar jam 5 lebih 15 menit saya sudah berada di Stasiun Kota.

Perjalanan memang berjalan lancar, dari stasiun ke stasiun sudah sesuai waktunya. Namun sesaat akan memasuki Stasiun Bogor, kereta berhenti. Jika biasanya berhenti sebentar, ini tidak, kereta berhenti cukup lama. Sekitar 20 menitan kereta mengantri masuk, menunggu kereta lain di Stasiun Kota diberangkatkan.

Aku kembali menghela nafas, Benar-benar keadaan yang tidak ideal, umpatku dalam hati.

Jam 6 kurang aku sampai di Stasiun Kota, aku berjalan cepat mencari mikrolet 15 menuju ke Ancol. Namun karena kemacetan yang tidak tertahankan, mikrolet yang aku cari tidak ada. Aku terus berjalan, keadaan di sekitar stasiun sangat macet. Untungnya, sebuah mikrolet ke arah stasiun kota berputar arah menuju ke Ancol. Aku bernafas lega, meskipun telat setidaknya jam 6 lewat aku sudah sampai Ancol. Prediksiku nyatanya tidak sejalan, macet pun tak terhindarkan menuju ke Ancol. Ketidakidealan itu membuatku harus sampai jam setengah tujuh menuju ke Pasar Seni Ancol

Tepat ketika ku datang, Gubernur DKI Jakarta Bpk. Fauzi Bowo baru memasuki area. Setelah melakukan registrasi, aku pun mengikuti acara dengan hikmat. Masih dengan keringat yang bercucuran, aku menyaksikan tari-tarian eknik yang luar biasa sebagai hiburan pembuka.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dan kesan antara lain dari Bpk. Yogi (Kadin Indonesia), Bpk Budi Karya Sumardi (Dirut PT. Pembangunan Ancol) dan yang membuat aku bangga ketika Amril Taufik Gobel sebagai perwakilan blogger memberikan sambutan berupa kesan dan harapan ke depan berupa pentingnya kerjasama sebuah event dengan blogger.

Mas Amril perwakilan dari komunitas blogger memberikan kesan dan harapannya

Acara berikutnya pengumuman pemenang, kali ini Ketua Dewan Juri Prof. Srihadi Soedarsono mengumumkan lukisan terbaik. Aku mendengarkan dengan seksama, walaupun belum melihat satu lukisan pun.

Pengumuman pertama adalah 5 lukisan terbaik. Pemenangnya adalah.

  1. Banu Arsana (Yogyakarta) judul lukisan Siluet Insan Kamil
  2. Mansyur Masud (Belitung) judul lukisan Detak Jantung Jakarta
  3. S. Dwi Stya/Acong (Yogyakarta) judul lukisan Suatu Yang Indah
  4. Sentot Widodo (Yogyakarta) judul lukisan Reparasi Nurani
  5. Vani Hidayatur Rahman (Yogyakarta) judul lukisan Unity

Kemudian pengumuman dilanjutkan kategori Karya Utama yang jatuh kepada Sapto Sugiyo Utomo (Solo) judul lukisan Keluarga Sakinah

Lukisan terbaik kategori Peserta International diberikan pada Mai Erard (Perancis) dengan judul lukisan Compres Love Love Love2.

 

Usai pengumuman Fauzi Bowo naik ke panggung untuk menyerahkan piala, piagam penghargaan dan hadiah. Kemudian Bapak Gubernur memberikan sambutannya

Seni lukis adalah cermin dan refleksi budaya kita dalam kurun waktu tertentu, ucap Pak Fauzi Bowo. Isu-isu yang hangat akan cepat berkembang di masyarakat melalui sosial media. Saya berharap keberadaan komunitas blogger ini tidak hanya dalam event seperti ini, namun dalam setiap kesempatan ikut andil dalam mensosialisaikan kegiatan-kegiatan di Jakarta ini, harapan Pak Fauzi Bowo kepada komunitas blogger. Saya berharap keberadaan Jakarta Art Award ini tetap menjadi sebuah tampilan citra Kota Jakarta menjadi kota seni dan budaya. Siapapun yang akan menjadi pemimpin Jakarta nanti, saya harap Jakarta Art Award ini tetap berlanjut, harapan Pak Fauzi Bowo kepada pemerintah. Memberikan dukungan kepada seni dan budaya bangsa adalah juga memberikan dukungan kepada pertumbuhan yang sehat kepada bangsa ini, tutup sambutan Pak Fauzi Bowo. Semua mengamini dan bertepuk tangan.

 

Setelah selesai prosesi penyerahan hadiah, Gubernur DKI Jakarta membuka acara dengan menggoreskan cat air ke kanvas. Fauzi mengambil cat air berwarna biru sebagai simbol kelautan. Goresan cat biru akhirnya membuka acara Jakarta Art Awards dilanjutkan dengan goresan cat air oleh Pak Budi Karya Sumardi.Setelah pembukaan, kami dipersilahkan untuk memasuki ruang pameran yakni di North Art Space, Pasar Seni Ancol. Aku yang dari tadi penasaran, tanpa menunggu waktu berlama-lama langsung memasuki ruang pameran.

Entah mengapa ada rasa bangga ketika memasuki pameran. Bayangkan lukisan terbaik yang disaring dari sekitar 3300 lukisan dengan pelukis 1120 perupa membuat Jakarta Art Award yang berlangsung dwitahunan ini, adalah pameran seni budaya yang ditunggu-tunggu. Apalagi pergelaran kali ini adalah pergelaran keempat semenjak pameran perdana 2006 silam. Dan sekarang, aku melihat pameran luar biasa ini di hari pertama dari kurun waktu 28 September hingga 28 Oktober 2012.

Aku mengamati lukisan satu persatu, decak kagum tiada henti kusematkan. Beragam imajinasi berlarian di pikiranku. Tema Ideal World (Interpreting a Perfect Life) benar-benar ditafsirkan beragam oleh para perupa. Ada yang melihat dari beragam bidang, melihat sisi keidealan dari bidang olahraga, industri, teknologi, musik, sastra, dan kehidupan sehari-hari.

Hingga sampailah aku pada sebuah lukisan yang membuat saya terpana. Lukisan pemenang utama yang bertajuk Keluarga Sakinah sudah dihadapanku, lukisan ini digarap Sapto dengan membuat lukisan berupa potongan-potongan kardus. Rupanya Sapto merefleksikan kehidupan ideal di Kota Jakarta, di mana sebagian orang masih mengontrak, sebagian hidup berkecukupan dan yang ideal adalah yang sudah mapan dan dekat dengan Sang Pencipta. Hebatnya, Sapto menggambarkan setiap bagian lukisan dengan begitu rinci dan seksama. Hasilnya bagian-bagian itu menyatu saling menguatkan dan bermakna.

 

Lukisan yang membuat saya berdecak kagum lainnya adalah karya Mansyur Masud dan Banu Arsana. Karena kedua lukisan ini ditempatkan bersebalahan sehingga terlihat begitu memukau. Lukisan Mansyur mengambil setting kesemerawutan Kota Jakarta, Mansyur menggambarkan kemacetan Jakarta di Bundaran HI. Lukisan Mansyur menjadi tidak biasa tatkala lukisannya terbuat dari belahan-belahan kayu yang disatukan membentuk objek. Saat berkesempatan berbincang dengan Mansyur, beliau mengatakan pengerjaan lukisan ini sekitar dua minggu.

 

 

 

Aku masih berkeliling, lukisan-lukisan lain benar-benar membuat aku tersihir. Banyak hal yang bisa ku simpulkan, semua manusia di dunia ini pastinya memiliki persepsi ideal yang berbeda-beda, namun persepsi ideal yang tak seragam inilah yang membentuk hidup menjadi indah seperti lukisan-lukisan di Jakarta Art Award ini. Selain itu, ketidakidealan yang sering dihadapi manusia jika dijalani dengan sabar dan ikhlas pastinya akan membuahkan hasil yang mungkin tak kita sadari adalah keidealan itu sendiri.

Kereta menuju Bogor melaju cepat, aku bersyukur ketidakidealan yang kuhadapi saat menuju acara dapat kulalui. Coba saja aku mengurungkan diri datang karena hujan, pasti aku tidak dapat melihat lukisan-lukisan luar biasa. Jika karena macet aku tak jadi ke Ancol, barangkali tak ada cerita yang dapat kubagi kepada murid-muridku di kelas nanti.

NB

Untuk Orang tua, agar memperkaya pengetahuan ananda terkait seni dan budaya, ada baiknya anak-anak dapat diajak melihat pameran ini.

 SUMBER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s