(Catatan Seno Joko Suyono) : Tafsir Segar Perupa Muda

Salah satu penyebab terjadinya   titik-titik jenuh atau impasse dalam  dunia seni rupa adalah apabila banyak perupa mulai menyodorkan karya-karya klise. Mengulang-ngulang gagasan yang sudah ada. Malas melakukan pendalaman teknik. Cenderung menjauhi imajinasi-imajinasi yang berani.  Pada titik itu  seni rupa akan involutif –berjalan di tempat. Puas dengan pencapaian-pencapaian yang telah ada.

Kompetisi adalah satu upaya untuk menggebrak kebekuan-kebekuan demikian. Kompetisi adalah salah satu alternatif mencari terobosan-terobosan berdarah dan mencari ketakterdugaan-ketakterdugaan dari bakat-bakat terbaru. Panitia Jakarta Award  2012 menyodorkan tema kompetisi: Dunia Ideal. Tema yang cukup longgar ini diharapkan mampu merangsang fantasi dan  karya-karya yang segar .

Lebih dari 1000– perupa –mengirim karyanya. Sebuah jumlah terbanyak semenjak Jakarta Award diadakan. Karya yang diterima panita menafsirkan tema itu dengan gaya mulai   abstrak sampai tatah sungging wayang. Dari  ala poster, pop, dekoratif , sampai style tradisional Banjar Sangging Kamasan, Bali.

Justru keragaman ini yang diharapkan panita. Jakarta Award terbuka bagi semua gaya. Rata-rata peserta adalah  nama baru yang  belum pernah berpameran tunggal. Dari seribu karya yang masuk—memang tak semuanya layak .  Tapi tetap banyak karya menarik. Dalam menginterpretasikan tema yang disodorkan, mereka bisa mengatasi  tafsir verbal menuju permainan  metafor.

            Siluet Insan Kamil karya Banu Arsana misalnya. Ini adalah karya yang cenderung dekoratif. Karya ini menggambar kerumunan jamaah haji yang tengah tawaf memutari  Kabah. Banu menggambarkan Kabah secara apik. Tulisan Arab di dindingnya detail—cukup terasa agung. Yang menarik sosok yang bertawaf  bukan sosok orang biasa melainkan  sosok-sosok wayang kulit. Para wayang kulit itu mengenakan pakaian ihram putih-putih, ada yang memakai picis, memakai surban, atau rambutnya digelung sebagaimana biasa. Mereka berjalan,berdesak-desakan,tapi tanpa terasa berebutan. Ada yang tangan-tangannya menyentuh dinding, mendaras tasbih. Meski sosoknya semua wayang kulit terasa mereka datang dari  berbagi penjuru dunia. Jamaah itu multi ras.

Anehnya antara wayang dan Kabah ini terasa sangat  cocok, sangat selaras. Tak ada pertentangan antara Kabah dan Kejawen. Kita tangkap inilah dunia ideal di mata Banu Arsana. Dimata Banu   Islam dan Jawa bukanlah dua dunia yang saling bertabrakan tapi justru asimilatif. Keduanya bisa saling  osmosis saling serap menyerap. Karya ini menarik apalagi bahan utamanya adalah pelepah palem.

Beberapa karya yang masuk digarap dengan teknik super realis. Gusbandi Harioto,misalnya ia menambah daftar pelukis-pelukis dari Batu Malang yang cakap menampilkan obyek di kanvas seperti sebuah foto. Ia menyuguhkan seorang laki-laki separuh baya tengah duduk bersila melakukan samadi. Matanya terpejam. Ia seperti tengah berkonsentrasi. Sosok yang tengah bermeditasi itu seolah melayang masuk ke alam sureal. Gusbandi ingin menyatakan, dunia ideal baginya adalah sebuah dunia dimana orang mampu mengatasi pikiran-pikiran yang liar .Dunia ideal adalah apabila seseorang mampu menundukkan pikiran-pikiran yang melonjak-lonjak bagai kuda binal.

Kecakapan realisme juga diperagakan oleh Sapto Sugiyo Utomo. Pelukis kelahiran Kendal ini mengirim karya berjudul:Keluarga Sakinah. Namun di kanvas kita tak melihat sosok sebuah keluarga yang harmoni.Tapi  gambar sangat realis  tumpukan kotak-kotak kardus. Di beberapa kardus yang terbuka ada gambar sepeda motor, mobil, jemuran handuk dan mesin cuci. Sapto tampaknya hendak menyindir. Kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga masa kini meski hanya berumah kardus.

Beberapa karya yang dikirim juga mendemonstrasikan kedetailan tinggi. Tengoklah betapa cukup rumitnya lukisan berjudul: Unity, karya  Vany Hidayatur Rahman. Lukisan ini menggambarkan sebuah bahtera besar . Bahtera adalah ide yang banyak digarap oleh pelukis kita. Mulai Widayat sampai Amrus Natalsya misalnya. Tapi Vany bisa menyuguhkan sebuah imaji bahtera yang agak lain. Di kanvas ada sebuah kapal kayu raksasa yang belum rampung .Kita melihat di atas kapal masih ada serombongan pekerja sibuk. Menggergaji kayu, memasang papan, menggotong-gotong kayu,mengukur-ukur bidang. Vany menggambarkan seluruh kehibukan  ini dari sudut mata pandang burung. Kita seolah melihat bahtera itu dari atas. Seluruh rangka dan tiang-tiang penyangganya terlihat.

Ketrampilan teknik yang matang juga diperagakan oleh seorang perupa asal Belitong bernama Mansyur Mas’ud . Ia menyuguhkan gambar kemacetan Jakarta. Lokasinya di bunderan Hotel Indonesia. Ia mendramatisir suasana. Gedung-gedung tinggi makin padat,berhimpitan bersaing tinggi rendah.Mobil-mobil sesak mengelilingi air mancur. Yang tak biasa adalah dia menyajikan ini dengan teknik cukil kayu yang diberi pewarnaan. Ketrampilan dia mampu menghasilkan sebuah gambaran   Jakarta yang sesak tapi indah.

Karya yang berhasil secara kontemplatif yang diterima panitia juga banyak. Tengok karya perupa asal Bukit Tinggi bernama Wadino  berjudul: Mencari Jalan.  Ia menyuguhkan semacam alegori. Dalam kanvasnya kita melihat sebuah trap atau undak-undakan  yang sangat panjang seolah undak-undakan tiada berujung. Di sisi kiri kanan trap itu terdapat  sebuah panorama lahan yang sangat luas—namun dengan pohon-pohon ranggas. Tanpa daun, tanpa buah. Suasana abu-abu. Sendu. Cenderung muram. Seseorang laki-laki terlihat membungkuk menyapukan kuasnya di ujung trap. Ia mengecat trap itu dengan warna hijau.  Yang ia hijaukan adalah jalan semen , sementara tanah-tanah di sampingnya tetap tandus .Sebuah kritik tentang ekologi. Tapi digarap dengan sangat putis. Memandangnya kita dibawa ke sebuah suasana  kesendirian.

***

Beberapa karya menarik yang diterima panitia menampilkan  tafsir yang berbau agak futuristik. Lihatlah lukisan cat minyak karya Ajie Dharma. Di bawah sebuah jembatan baja yang berdiri kokoh,terdapat sebuah kumbang gigantik dari besi. Kumbang itu  mencapit  sebuah murbei raksasa.  Apa yang ada dalam benak  perupa ini? Bila ia ingin menyajikan kerasnya hidup di dalam dunia masa depan, mengapa yang ia sodorkan gambar pergulatan  kumbang dengan murbei, bukan pertempuran dengan makhluk besi lain sebagaimana kita sering lihat pada film sains fiction.  Cara pikir yang agak aneh, tapi menarik secara visual.

Atau tengoklah: The New World Order karya Tri Wahono. Sebuah kubus—persegi empat yang melayang, sementara jauh di bawahnya kita melihat samar-samar sebuah kota. Kubus itu adalah wahana antariksa super raksasa  yang didalamnya tumbuh kota-kota metropolis.Sebuah imaji mengenai kota digital  Kota yang terbang melayang. Secara visual karya ini digarap dengan tingkat presisi yang cermat.

Cubung Wasono Putro, pelukis Ancol mengirim lukisan sosok manusia-manusia-manusia super human. Entah dalam bayangannya itu sosok uebermensch atau cyborg. Yang jelas –bagai sebuah ilustrasi atlas atau globe  kuno  –sosok itu dikelilingi ordinat-ordinat yang menjadi sentrum-sentrum dunia  sphinx, menara Pissa, tembok Cina, kepala patung liberty dan sebagainya.

Jakarta Award–ingin membedakan diri dengan kompetisi-kompetisi lain. Parameter utama kompetisi ini adalah ketrampilan tangan dan uniknya gagasan .Jakarta Award  ingin merayakan ketrampilan tangan. Tapi bukan berarti ketrampilan itu harus senantiasa ditorehkan di bidang-bidang konvensional seperti  kertas dan kanvas.

Kami – para dewan juri  maka dari itu juga menerima karya-karya –yang misal dijahit di terpal.  Seorang seniman bernama Andres Busrianto mengirim semacam instalasi warung angkringan. Berbagai figur dilukis dan dijahit pada kain terpal dan  katun. Sebuah karya lain yang diterima panitia  menampilkan sesosok patung membenamkan kepalanya  ke dalam kanvas. Seluruh tubuh dan kakinya tampak, sementara kepalanya menghilang dalam sebuah genangan pekat. Asosiasi kita terhadap karya ini bisa bermacam-macam. Karya ini menarik secara gagasan dan teknik. Sekaligus mengandaikan bahwa di masa depan kompetisi  Jakarta Award amat terbuka  kemungkinan terhadap eksplorasi berbagai medium.

Seno Joko Suyono,wartawan Majalah Tempo, anggota dewan juri

Data biografi penulis:

Seno Joko Suyono , adalah wartawan Majalah Tempo. Menerbitkan beberapa buku termasuk Tubuh Yang Rasis: Telaah Michel Foucault atas dasar-dasar Pembentukan diri Kelas Menengah Eropa (Pustaka Pelajar,2008) dan Novel: Tak Ada Santo dari Sirkus (Lamalera,2010) . Menjadi salah satu kurator Jakarta Bienalle 2011: Maximum City.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s