(Catatan Agus Dermawan T) : Pasar Seni Ancol, North Art Space, dan Maecenas Kebudayaan

Sejumlah orang melihat PT Jaya Ancol hanya sebagai

pengelola hiburan atau tempat rekreasi. Padahal lewat

Pasar Seni dan North Art Space kiprahnya telah

mengembang jadi Maecenas Kebudayaan.

*

Dalam sebuah perbincangan tentang kebudayaan berujarlah seorang peneliti sekaligus penulis. “Kita akhirnya sangat memerlukan pendukung khusus untuk menerbitkan buku-buku kebudayaan yang kita bikin. Tanpa mereka, penulis buku akan mati pelan-pelan, dan hasil penelitian kebudayaan akan tiada gunanya.”

Dari perbincangan itu ia bercerita bahwa dirinya telah melakukan penelitian mengenai kebudayaan Batak Karo selama tak kurang dari 3 tahun. Hasil penelitian yang tebalnya lebih dari 200 halaman itu ia angankan sebagai pelengkap dari kitab semacam Transforming The Indonesian Uplands susunan Tania Murray Li, yang melibatkan peneliti seperti Peter Boomgaard sampai Tine G.Ruiter. Namun baru sampai ke bangku penerbit, manuskrip hasil penelitian itu memperoleh nasib buruk.

Penerbit bukannya mengapresiasi jerih-payah penelitian serius itu, namun justru membebani penulis dengan berbagai persyaratan yang menjepit. Penerbit mengatakan bahwa institusinya hanya mau mendistribusikan buku tersebut dalam satu tahun. Sehingga apabila pada bulan ke 13 masih ada buku yang belum terjual, maka sisa buku itu harus dibeli semua oleh penulis. Sementara itu di sisi honorarium fee, penulis menjumpai kenyataan lebih menyedihkan. Apabila buku itu dihitung laku semua, uang yang diterima hanya setara dengan beaya 3 bulan penelitian. Dan itupun dibayarkan sedikit-sedikit selama setahun.

Perbincangan itu pun lantas mencari solusi. Di antaranya dengan mengandaikan munculnya maecenas (sponsor besar) yang bersedia mendukung profesionalitas penulis dan penelitian kebudayaan. Maecenas ini diandaikan mau menerbitkan dan memberikan kompensasi yang layak kepada penulis-peneliti, sehingga dalam aspek keekonomian sang intelektual ini bisa hidup percaya diri.

Kesenian nirnominal

Hadirnya maecenas kebudayaan ini sesungguhnya bukan hal yang muskil. Sejak 70 tahun lalu di Amerika aktif  Rockefeller Foundation, Ford Foundation dan sebagainya. Yayasan itu melakukan lintas kegiatan ke seluruh dunia. Bahkan sumbangannya sampai ke Indonesia, sebuah negara kaya budaya namun punya Pemerintah yang pelit plus kerap lupa soal pengembangan budaya dan seni nasional.

Kebudayaan memang nirmodal. Sementara anak kebudayaan yang paling gemilang, kesenian, adalah nirnominal. Kondisi ini sudah menjadi takdir, lantaran kebudayaan dan kesenian lahir dari sesuatu yang abstrak, yakni gagasan. Dan gagasan akan mewujud representatif bila didukung oleh sarana permodalan. Serta bisa maksimal menunaikan tugas sebagai pendekorasi zaman dan penghalus peradaban apabila terus mendapat dukungan.

Hasrat memodali kebudayaan dan kesenian ini sejak 10 tahun terakhir menjadi aspirasi tinggi para filantrop seluruh dunia. Orang sebumi lantas mengingat nama Eli dan Edythe Broad sang pendiri SunAmerica, bankir Bernard Osher, Irwin dan Joan Jacobs pendiri Qualcomm, co-founder Microsoft Paul Allen, bahkan Dawn Greene, janda pengacara kaya raya Jerome Greene. Milyaran dolar telah mereka berikan. Penting dicatat, dari 50 milyuner paling dermawan di dunia, 35% menyumbang untuk dunia seni dan budaya (BusinessWeek, 2006).

Kesadaran kemaecenasan seperti ini agaknya terstimulasi oleh sejarah yang mendata bahwa kesenian besar memang sering lahir dari kemurahan hati dan keseriusan sponsor. Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) mencipta “Requiem”atas pesanan Pangeran Walsegg. Meski dipesan dengan perjanjian ganjil, – Mozart harus mengatakan bahwa itu ciptaan Walsegg -, komponis ini mengerjakannya dengan penuh kesungguhan. Para ahli musik menilai, sehebat-hebatnya Mozart, ia tidak akan mampu membuat karya begitu bagus, grand, hati-hati dan teliti tanpa didukung oleh sponsor besar seperti Si Pangeran.

Seniman pop art ternama James Rosenquist (1933) juga banyak mengerjakan karya besar atas dasar pesanan dari para maecenas. Kala bertandang ke Indonesia pada 1995 dan berpameran tunggal di rumah Duta Besar Amerika, ia bertutur bahwa karya-karya utamanya justru yang lahir dari stimulasi para sponsor raksasa. Seperti lukisan berjudul “F111” misalnya, yang disebut-sebut sebagai “Guernica”nya Amerika. Lukisan-lukisan terbaik Raden Saleh juga lahir ketika ia berada di lingkungan orang kaya di Belanda dan para baron di Jerman.

Kisah Sultan Mohammad II di abad 15 mungkin amsal yang paling diingat dalam dunia permaecenasan. Sultan ini pernah mensponsori seniman renaissance Gentille Bellini (1429-1507). Selama “dipelihara” Bellini ditugasi menghias dinding-dinding Istana Doge, di antaranya kamar Sultan di Konstantinopel alias Istambul. (Sujoko, 1975). Oleh karena Gentille bekerja dengan tenang, kualitas karya yang dihasilkan sungguh istimewa adanya. Seusai dari tugas Gentille pulang ke Itali dengan kekayaan mendebarkan, dengan kemampuan semakin terlatih, dengan popularitas yang mengungguli saudaranya, Giovanni Bellini, dan dengan sejumlah bintang serta gelar. Gentille lantas diangkat sebagai pelukis resmi pemerintah untuk Pallazzo Ducale di Venezia.

Kebangkitan swasta

Maecenas kebudayaan dan kesenian di Indonesia sudah ada sejak puluhan  tahun silam. Sejarah bicara, betapa Presiden Sukarno pada tahun 1950-an tak henti-hentinya memprovokasi sejumlah institusi dan perorangan untuk menjadi maecenas (sponsor besar) kebudayaan. Untuk bidang sastra Bung Karno terus menjunjung Balai Pustaka. Untuk perfilman bendera Perfini tak putus dikibarkan. Untuk seni rupa ia mendukung usaha orang-orang kaya semacam Tjio Tek Djien sebagai stimulator penciptaan, dan James Pandy, pengusaha biro wisata Thomas Cook, sebagai agennya.

Bung Karno bahkan membiarkan partai-partai politik untuk menjadi promotor dan maecenas kebudayaan. Seperti Partai Nahdlatul Ulama yang mensponsori Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia). Partai Nasional Indonesia yang membeayai aktivitas LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) Sampai Partai Komunis Indonesia yang menggerakkan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Sikap kemaecenasan partai-partai politik ini surut pasca kudeta politik 1965.

Ketika memasuki masa Orde Baru, yang muncul pelan-pelan sebagai sponsor kebudayaan adalah adalah perusahaan.  Di lingkup perusahaan, yang memulai aktivitas ini adalah Pertamina. Pada tahun 1970-an perusahaan negara “peraih segala untung” ini mensponsori banyak bidang seni untuk melakukan pengembangan, sosialisasi, aktualisasi dan pemashuran. Banyak pagelaran besar yang disponsori. Bahkan para pemusik dan biduan Indonesia dihadiahi panggung pentas di Restoran Ramayana, di New York. Sejumlah pelukis top Indonesia pernah diminta melukis kilang-kilang minyak di antero Nusantara, dengan hasil yang jadi perbincangan ramai.

Namun kedermawanan Pertamina tidak lagi bergema ketika memasuki kurun 1980-an. Sering lupanya Pertamina kepada kebudayaan dan kesenian diiringi citranya yang melorot lantaran berbagai kontroversi kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Surutnya Pertamina ini tidak menyentuh hati perusahaan-perusahaan lain untuk menjadi filantrop pengganti yang signifikan dan dominan.

Setelah surut 10 tahunan, baru tahun 1990-an muncul para maecenas baru seperti Gudang Garam, Sampoerna, juga Philip Morris yang ngeluruk dari Amerika. Tahun 2000-an muncul Indofood, Sido Muncul, Majalah Bazaar, Bank UOB Indonesia, BNI 46 dan sebagainya. Bahkan pada Mei silam kedermawanan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memercik. Lewat BP Migas mereka bikin event budaya “@rt Energy”, yang melibatkan pelukis Hardi, Lim Hui Yung, penyair dan budayawan EZ Halim, Fadli Zon, Yusuf Susilo Hartono dan sebagainya.

Di antara semua itu ada perusahaan rokok Djarum dengan institusi Djarum Apresiasi Budaya, yang sumbangannya luar biasa. Sejak 1992 Djarum telah menggerakkan sekitar 1000 pagelaran!

Maecenas swasta nyata telah membuat kebudayaan dan kesenian Indonesia terus bangkit, dan tak henti menghiasi peradaban. Maka tak pelak, Hari Kebangkitan Nasional adalah perayaan untuk menghormati peran maecenas kebudayaan dan maecenas kesenian Indonesia Raya.

Kebudayaan di Ancol

Kiprah PT Pembangunan Jaya Ancol sebagai fasilitator, sponsor dan pengembang kebudayaan tidak bisa dilupakan. Pada tahun 1975 PT Pembangiunan Jaya Ancol mendirikan arena pasar seni di kawasan taman hiburan Ancol, Jakarta Utara. Pasar seni ini pada awalnya dinamai “Bazar Seni Rupa”, dan diinspirasi oleh pasar seni Montmartre di Paris. Inspirasi itu semakin mengkristal ketika para punggawa Ancol menyaksikan Bazar Seni di ITB, Bandung. Tujuannya adalah : mengapresiasikan karya-karya seni rupa dengan pendekatan lebih ringan dan cair. Dan memposisikan seni rupa sebagai bagian dari hiburan. Pilihan pendekatan ini sedikit banyak mengimbangi Taman Ismail Marzuki, yang kala itu sangat menjunjung seni rupa sebagai sesuatu yang cenderung berat dan sakral.

Pada awalnya pasar seni ini diselenggarakan sebulan sekali, tepat pada romantisme bulan purnama, selama 3 hari. Di situ para seniman (akademis) dan pengrajin — yang waktu itu banyak datang dari Yogyakarta dan sekitarnya — disediakan “gubuk-gubuk” remanen beratap rumbia. Lokasinya terletak di antara Gelanggang Renang dan Gelanggang Samudera.

Persis seperti dugaan, kehadiran “Bazar Seni Rupa” disambut publik dengan antusias. Hampir 90 persen benda seni yang dipajang di situ senantiasa terjual. Oleh karena itu pada beberapa bulan kemudian Bazar Seni Rupa diperpanjang jadi 5 hari. Pada tahun berikutnya jadi 10 hari. Pada momentum inilah PT Pembangunan Jaya Ancol tersadarkan bahwa seni rupa adalah aset budaya yang memiliki pasar luar biasa. Apalagi setelah diketahui bahwa, selain didatangi ribuan anggota masyarakat berbagai kalangan, PSA juga dikunjungi tamu-tamu besar seperti Ibu Tien Soeharto, Jeihan Saddat, Norodom Sihanok dan isterinya, Lee Kuan Yew sampai Ratna Sari Dewi Sukarno. Oleh karena itu bentuk pasar harus dikembangkan.

Pada tahun 1978 Bazar Seni Rupa sudah berubah jadi Pasar Seni Ancol (PSA) dengan bangunan-bangunan kios apik dan permanen. Sebuah pasar yang telah jauh mengalahkan Montmartre-Paris yang remanen. Di sini para perupa berpraktik dan berjualan tanpa enggan dan segan. Sampai akhirnya lahir para pelukis yang namanya kemudian dikenang dalam sejarah seni rupa Indonesia, dengan predikat hebat, bagus, dan aktif. Seperti Amrus Natalsya, Nyoman Gunarsa, Hatta Hambali, Salim M, Harlim, Mansyur Mas’ud, Nisan Kristiyanto, Idran Yusup, Dwijo Widiyono, Cubung W, Mulyadi, Sapto Sugiyo, Paul Hendro dan sebaganya.

Atas sukses PSA ini kita lalu harus mengingat sederet nama yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangannya. Seperti Soekardjo Hardjosoewirjo, Suluh Darmaji, Waluyo, Falaah Djafar, Indros, Isnaeni MH, Arifin, Mardono, sampai Syahrial. Tentu juga Anom Hamengkubudi, Farida Kusuma, Bogang Suharno dan lain-lain, yang terus berusaha menjadikan PSA selaras dengan zamannya. Semua jalan itu pada awalnya dipandu oleh Ciputra, arsitek pengembang yang memiliki idealisme seni tiada habis, untuk kemudian diteruskan oleh Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol yang sekarang.

Masyarakat kemudian tahu, di PSA ini juga muncul panggung tari, musik, drama, dan aneka performan lainnya. Tak terhitung seniman yang memulai manggung di sini menjadi besar di kemudian hari. Dan tak sedikit artis-artis yang sudah terkenal tampil di PSA. Lebih jauh, kemerdekaan kreatif di PSA membuahkan petualangan seni yang membuka horison wacana dan visual. Sebelum jagad seni rupa Indonesia dihebohkan oleh seni instalasi pada kurun 1990-an, para seniman Ancol telah mengerjakan itu. Bahkan di panggung arena PSA kerap diselenggarakan pementasan seni-kejadian (happening art), seni-konseptual (conseptual art). Berbagai diskusi kebudayaan dan seni yang melibatkan nama-nama besar juga diselenggarakan. Perupa Harijadi S, Abas Alibasyah, Amrus Natalsya, budayawan H.Boediardjo, komposer Sam Saimun, sastrawan Arswendo Atmowiloto, penyanyi dan pencipta lagu Titik Puspa, Ully Sigar Rusady, sampai Oppie Andaresta pernah tampil di sini.

Pada kemudian hari PSA memiliki galeri yang diperuntukkan bagi penghadiran karya-karya puncak, baik dari seniman PSA sendiri maupun dari seniman luar Ancol. Termasuk jajaran karya para seniman besar. Pameran tunggal Henk Ngantung serta perhelatan besar pertemuan Basoeki Abdullah – S.Sudjojono – Affandi adalah di antaranya. Galeri ini kemudian dikembangkan selaras zaman, dengan diayomi institusi baru yang bernama North Art Space atau NAS. Institusi inilah yang menggerakkan kompetisi seni lukis nasional-internasional Jakarta Art Award, yang diluaskan dari embrio Golden Palette Art Award 2005, yang semula diperuntukkan bagi seniman Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Depok-Bekasi).

Dari paparan hikayat di atas nyata bahwa PT Pembangunan Jaya Ancol, lebih spesifik manajemen Pasar Seni Ancol dan North Art Space, adalah maecenas kesenian dan kebudayaan yang terus memegang komitmen dan idealisme. Tak terhitung beaya yang dikeluarkan untuk  mengapresiasikan karya seni ke masyarakat luas, memberdayakan seniman, merangsang kreativitas seniman, menyejahterakan seniman, selama 37 tahun. ***

Agus Dermawan T.

Kritikus, penulis buku, anggota dewan juri Jakarta Art Awards.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s